Potongan Inspirasi Dalam Dekapan Sang Purnama

Malam menjadikannya semakin gelisah, di sebuah pondok harapan yang dia bangun sendiri dengan keringatnya. si kecil yang sederhana berharap pangeran malam itu datang kembali menghampirinya dengan menyunggingkan senyum.
Dia masih ingat kejadian pada malam itu, dia berjalan terseok-seok dengan kaki terluka tergores semak berduri di hutan, sambil merintih dia berusaha membawa sekeranjang apel untuk persediaan makanan di pondoknya. tapi malam itu adalah malam terindah baginya karena dia ditolong oleh seorang pangeran berkuda putih. Rambutnya hitam, tubuhnya jangkung tinggi, kulitnya bersih, dan senyumnya menentramkan jiwa, hanya itu yg bisa di ingat oleh ingatan si kecil pengharap. dia selalu berdoa setiap malam agar dipertemukan kembali dengan Sang pangeran Malamnya.


Malam telah larut dalam kesunyian, namun tidak berlaku pada ruangan ini, terdapat lima pria yang sedang sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing entah apa yang membuat mereka sangat sibuk sampai tidak terdengar suara apapun selain bacaan qur’an dan hadist dengan penjelasannya,  namun ada satu diantara mereka berlima yang sangat khusyu’memandangi sebuah profil seseorang, sehingga karena sangat memerhatikan profil tersebut dia tidak sadar bahwa ada seseorang dibelakangnya.
      “Akhi Hilal, kenapa tidak belajar malah membaca hal-hal yang jelas-jelas tidak akan ditanyakan oleh DR. Anas besok”tegur Fathi sambil menepuk pundak temannya yang sedang membaca dengan serius itu sambil meneruskan berbicara “Apa yang akan membantumu dengan membaca profil itu?”protes Fathi sembari meletakkan buku-buku tebal karya ulama-ulama terkenal”Ini lebih baik dan lebih selamat untuk dibaca, apakah kamu tidak takut dengan pertanyaan yang akan diajukan DR. Anas besuk? Ujar Fathi kesal karena omongannya tidak didengar oleh lawan bicaranya tersebut.
      “Eits Akhi Fathi, jangan salah dengan membaca profil beliau aku jadi tau kan bagaimana seluk-beluk DR.Anas”elak Hilal sambil merangkul teman dibelakangnya kenudian Hilal menurunkan kursor untuk melihat-lihat beberapa profil tentang doctor yang akan menjadi dewan jurinya besok pagi.
      Hilal Arsyi, Fathi Abqoriey Awwabi, Najmuddin Al-farabi, Husain Hizbullah, dan Ahmad Zaki Nur Zaman adalah kelima finalis acara pencarian para imam-imam muda berbakat disalah satu stasiun TV nasional Malaysia, mereka sudah berbulan-bulan melewati masa penyisihan, mereka dituntut untuk menguasai ilmu-ilmu islam baik klasik maupun Kontemporer yang sedang Booming dikalangan umat islam dunia, mengatasi problematika keislaman, keahlian berpidato dan pengetahuan-pengetahuan mengenai Al-Qur’an dan Hadist.
      Tapi entah mengapa ada yang lain dari seorang Hilal Arsyi, pria berusia 24 tahun lulusan University Sains Islam Of Malaysia itu menjadi tertarik untuk mencari tahu sosok putri dari doctor yang akan mengujinya besok, setelah melihat sosoknya di website pribadi DR. Anas.
      Sosok Hilal yang sangat acuh tak acuh terhadap wanita, sekarang berbanding terbalik dengan biasanya, maklum sosok Hilal lah yang menjadi icon pencarian bakat imam-imam muda ini, bagaimana tidak Hilal yang usianya baru 24 tahun dapat meraih summa camlaude di program pasca sarjana Islamic education and law di universitas terkemuka di Malaysia tersebut ditambah lagi dengan sosoknya yang tinggi, berkulit cerah, mata tajam, serta tumbuh rambut-rambut halus di sekitar wajahnya yang mempertegas bentuk wajahnya, tak ayal banyak kaum hawa Malaysia yang mengaguminya bahkan mereka tak segan-segan menyatakan perasaanya di akun jejaring sosial milik Hilal.
      “Qousa Zayyana Aisya, namanya sangat indah pasti dia menjadi pelangi di kehidupan orang disekitarnya”gumam Hilal yang tak disadarinya tersenyum sehingga terlihat dua lesung pipinya yang menambah ketampanan Hilal sembari melihat foto Qousa di website pribadi milik Doctor yang akan mengujinya besok.
      Malam semakin larut semua finalis pencarian imam muda satu persatu telah mengistirahatkan mata mereka namun entah mengapa senyum masih mengembang di wajah Hilal matanya belum ingin untuk di pejamkan , dia tidak bisa berpikir jernih saat ini karena satu wajah yang ingin dia temui secepatnya juga berharap ada suatu keajaiban yang akan mempertemukan mereka berdua di suatu hari nanti.
To be continued....

Komentar